Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts

8/11/17

Howger Chu 朱禹豪 – my friend, my roommate, my teacher in life

Kali ini saya mau cerita tentang seseorang yang saya kenal di Taiwan dan berpengaruh cukup besar di dalam kehidupan saya : Howger Chu. Sekilas tidak ada yang berbeda antara kita dengan Howger, hanya saja kebetulan dia tidak bisa melihat sejak lahir.

Selama studi saya di Taiwan selama 4 tahun, saya menghabiskan 2 tahun terakhir saya sekamar dengan Howger. Sebenarnya saya ditugaskan oleh kampus untuk membantu keseharian Howger di dormitory, seperti membelikan makanan, membawa baju kotor ke laundry room, mengantar Howger ke kelas pada pagi hari.

Terlahir dengan mata yang tidak bisa melihat sama sekali tentunya bukan hal yang satupun dari kita harapkan. Begitu juga dengan Howger, tentunya kita bisa bayangkan betapa down dan hopeless seseorang yang harus menghabiskan hidupnya tanpa indera penglihatan.

Pertama kali bertemu di suatu hari Minggu, tepatnya satu hari sebelum masuk sekolah, saya langsung mendapatkan impression bahwa Howger adalah seseorang yang sangat ramah dan terbuka dengan orang lain, sama sekali tidak ada pemikiran bahwa dia minder / tidak pede dengan kondisinya.

Semakin waktu berlalu, semakin saya mengenal personality Howger. Satu hal yang saya salut dan kagum dari dia, adalah selama 2 tahun tinggal bersama Howger sama sekali tidak pernah saya mendengar dia mengeluh satu kali pun. Walaupun kadang tugas sekolah banyak, ditambah kegiatan extracurricular yang diikuti, tapi Howger selalu mengerjakan tugas-tugas sekolahnya dengan bibir yang selalu tersenyum.

Howger sedang mengerjakan tugas di komputer khusus
Seringkali saya merasa kesal karena tugas kuliah yang menumpuk sedangkan tidak ada cukup waktu untuk mengerjakannya. Saya pun mulai menggerutu di meja belajar saya sendiri. Tapi tiap kali saya melihat Howger sedang sibuk sendiri mengerjakan PR-nya di komputernya tanpa mengeluh sedikitpun, saya merasa tertampar dan tersadar bahwa saya tidak seharusnya mengeluh dengan kondisi yang saya hadapi.

Bagaimana bisa seseorang yang tidak dikaruniai Tuhan dengan indera penglihatan bisa begitu grateful dengan hidupnya? Sedangkan saya yang dihadiahi anggota tubuh lengkap masih sering mengeluh dengan kondisi hidup yang saya rasa tidak sesuai dengan harapan saya. Sebuah pertanyaan yang perlu saya renungkan dan pertanyakan ke diri saya sendiri.


Selain memiliki kepribadian terbuka dan sifat yang selalu bersyukur, Howger juga dianugerahi Tuhan dengan suara yang bagus sekali dan kemampuan untuk bermain alat musik, seperti gitar dan piano.

Suatu kali saya berkesempatan untuk berkolaborasi dengan Howger dalam satu kompetisi menyanyi dan bermain gitar. Hasilnya… saya dan Howger memperoleh juara 1 !!! Suatu kenangan yang tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya.


Demikian cerita saya tentang Howger Chu, seseorang yang secara usia lebih muda dari saya, namun mengajarkan saya banyak hal dalam hidup, terutama dalam mensyukuri apa yang kita punya dalam hidup dan tidak mengeluh dalam menghadapi masalah apapun.

謝謝你,朱禹豪! 從你身上我學會了很多事情 : 學會了感恩,學會了知足,學會了微笑,學會了快樂。




Leia Mais…

8/7/17

Pendakian Gunung Guntur, Garut, Jawa Barat

Berawal dari iseng-iseng melihat Instagram tentang naik gunung, dalam hati berpikir “keren juga nih..” jadi gue jadi tertarik untuk mencoba juga. Singkat kata gue browsing di internet dan Instagram, akhirnya ketemu 1 account di IG yang memang suka ngadain open trip. Akhirnya gue daftar dan join trip ke Gunung Guntur. Sumpahh, gue gak ada bayangan sama sekali di mana gunung itu.
Sekilas info tentang gunung ini : tinggi 2,249 meter dpl, erupsi terakhir tahun 1847. Jadi ini adalah gunung berapi masih aktif yang terletak sekitar 10 km dari kota Garut.

Tiba di basecamp (rumah warga yang dijadikan markas sebelum pendakian), gue sempat tidur sebentar, bersih-bersih dan sarapan. Setelah siap perlengkapan tempur, langsung berangkat menuju tempat camping. Setelah berjalan kurang lebih 7-8 jam, akhirnya tiba juga di lokasi bermalam. Untungnya lokasi camping dekat dengan sumber air bersih, lumayan untuk masak dan keperluan lainnya.

Salah satu hal yang gak bisa gue lupa dengan gunung ini adalah gunung ini masih AKTIF hanya sedang tertidur. Jadi di dalam tenda itu PANAS banget..
Besok pagi-pagi sekali, langsung summit attack. Medan ke puncak bisa dibilang lumayan berat, terutama kurang lebih 100 meter sebelum puncak di mana itu adalah medan berpasir. Gambarannya adalah kita jalan ke atas 2 langkah, maka akan turun 1 langkah ke bawah. Begitu terus sampai ke puncak.
Foto narsis di atas puncak Guntur (gunung Cikuray di belakang)
Pengalaman pertama naik gunung ini cukup menarik dan membuat ketagihan. Bertemu teman-teman baru, menaklukan rasa ngantuk untuk summit attack, kerja sama mendirikan tenda. Satu pelajaran yang gue ambil dari pengalaman naik gunung Guntur ini mau gue coba share sekarang.


Waktu pertama mulai meninggalkan basecamp dan berjalan menuju gunung Guntur ini, perlahan dari kejauhan mulai terlihat bentuk gunung ini. Walaupun bisa dibilang gunung ini tidak terlalu tinggi (2,249 mdpl) tapi waktu pertama kali gue lihat ketinggian gunung ini, dalam hati kecil gue ngomong : apa bisa yah gue sampai ke puncaknya? Gue harus jalan berapa lama yah baru bisa sampai? Kira-kira gue kuat gak yah sampai ke atas?
Gunung Guntur dari kejauhan..
Pertanyaan-pertanyaan kaya begitu yang terlintas dalam pikiran gue ditambah dengan panasnya udara saat itu bener-bener bikin gue down dan berpikir untuk berhenti aja. Tapi gue memutuskan untuk tetap bertahan dan berjalan selangkah demi selangkah menuju ke puncak gunung Guntur tersebut. Dan akhirnya, gue bisa sampai ke puncaknya.. 

Saat gue jalan balik ke basecamp dari lokasi camping, gw melewati jalan yang sama dan melihat lagi pemandangan yang sama, yaitu bentuk gunung itu dari kejauhan. Gue langsung merasa amazed gue bisa sampai ke puncak gunung yang sehari sebelumnya gue anggap mustahil untuk gue lakukan.

Gue rasa dalam hidup juga sama, ada beberapa hal / mimpi / keinginan yang kita anggap mustahil untuk dicapai, mungkin karena hal itu terlalu besar, terlalu tinggi, terlalu jauh dari jangkauan kita, sehingga kita sudah down bahkan sebelum kita punya keberanian untuk mencobanya. Dari pengalaman naik gunung Guntur kali ini, gue sadar satu hal : kita tidak bisa langsung mencapai keinginan / mimpi kita dalam sekejap mata tapi yang harus kita lakukan adalah terus berjalan selangkah demi selangkah menuju tujuan (mimpi) kita itu. Tidak peduli seberapa pelan kita berjalan, asalkan kita tetap melangkah di arah yang benar maka pasti kita bisa mencapainya. Tidak ada mimpi yang terlalu besar untuk digapai asalkan kita mau memulai dan konsisten dalam melangkah untuk mencapai mimpi itu. 

Leia Mais…

8/3/17

最近的我..

好像我已經很久了沒寫這部落格,至少是已經過了四年半了。基本上,我的生活沒什麼大的改變。去年9月換了公司,但依然在旅遊業工作。一個東西沒變,就是我還是沒有女朋友,哈哈哈.. 這個是最慘的吧.. 其實也還好啦,可能我已經習慣了過自己一個人的生活吧。

很多身旁的朋友們一直在問我為甚麼到現在都沒有女朋友? 每次我都會試著躲開這問題,因為我真的不知道要怎麼回答。有些人說我太挑剔了,甚至有人問我是不是不喜歡女生了,哈哈哈.. 我都不想理他們了。

老實說,我這個人就是太重感情了。不知道這是否是好事情。只要我跟那個人不覺得舒服,我都不會勉強跟她在一起了。

最近我喜歡上一個女生了。別問我為什麼我會喜歡她,因為我自己也不曉得。愛情就是這麼奇怪。一個我們從來不想認識陌生人,過了幾個月後可能會變成我們最熟的人。很久沒喜歡上女生了,有點不知所措。其實,到現在我也不知道她對我有什麼感覺。真希望她對我也有感覺。不過,我不想有任何假設。我學到了一件事情,當你喜歡一個人時,別放太多的期望,因為期望越高,失望也越大了。讓那感情自然發芽吧。若她是屬於你的,他會變成你的。但若她不是屬於你的,再怎麼努力也沒有用。生活就是這麼不公平,我們不用麻煩自己試著改變這個事實。事實就是改變不了的,我們只能接受它,適應它。

先這樣囉,改天有空我再寫寫我的想法和感受...

Leia Mais…

10/18/11

What is your dream job ?

Pekerjaan impian bagi setiap orang jelas berbeda-beda. Kriteria untuk pekerjaan impian pun bervariasi. Banyak orang yang menganggap gaji besar sebagai standar pekerjaan impian, tapi apakah hanya itu syarat sebuah pekerjaan bisa disebut sebagai pekerjaan impian?
Setelah menyelesaikan kuliah selama 4 tahun di Taiwan, saya dihadapkan pada suatu pertanyaan besar : "Apa yang akan saya kerjakan setelah selesai kuliah??" Saya yakin pertanyaan ini pasti sering dipikirkan oleh mahasiswa di tingkat akhir. Jawaban dari pertanyaan ini tidak terjawab bahkan sampai saat saya kembali ke Jakarta pada akhir Juli 2010.

Pertengahan Agustus saya mendapat pekerjaan pertama saya di sebuah perusahaan Taiwan di daerah Cikupa Tangerang yang bergerak di bidang industri insole sepatu. Setelah bekerja selama 10 bulan, saya merasakan kegelisahan yang tidak tahu dari mana asalnya. Saya mulai merasa tidak nyaman dengan pekerjaan saya di perusahaan itu. Alasan utamanya adalah lokasi pabrik yang terletak jauh dari tempat saya dibesarkan (Jakarta) maupun rumah tempat saya tinggal bersama keluarga (BSD). Dikarenakan letak perusahaan yang jauh, maka saya diberi fasilitas mess di dalam pabrik. Setelah pulang kerja, yang bisa saya lakukan hanya bermain internet di kantor dan pulang ke mess untuk tidur. Rutinitas seperti ini membuat saya tidak nyaman dan ingin mencari pekerjaan lain yang bisa membuat kehidupan saya lebih lively.

Awal Juni 2011, saya memulai pekerjaan baru saya di dunia tour and travel. Ini adalah bidang yang sudah tidak asing lagi karena saya adalah lulusan Sekolah Menengah Industri Pariwisata (SMIP). Walaupun salary di tempat baru ini tidak sebesar di perusahaan sebelumnya, saya merasa bahwa passion saya adalah di bidang ini. Oleh sebab itu saya langsung mengiyakan tawaran bergabung dengan salah satu travel agent di Jakarta.

Sampai saat ini, saya sudah bekerja di bidang ini kurang lebih 4,5 bulan dan tidak ada penyesalan yang saya rasakan karena telah melepas pekerjaan dengan salary yang lebih oke di kantor sebelumnya. Ada pepatah yang mengatakan "do what you love or love what you do", saya sendiri lebih memilih yang pertama karena akan sangat menyiksa dan membosankan pastinya saat kita terpaksa menyukai apa yang kita kerjakan hanya karena kita gak mampu untuk mencari pekerjaan yang lebih kita sukai.

Apakah pekerjaan ini adalah dream job saya? Sejujurnya saya tidak tahu, tapi yang saya tahu hanyalah saya telah mengikuti apa yang menjadi passion saya. Kepada siapa pun yang membaca tulisan ini, saran saya hanyalah follow your passion and success will definitely follow you.

Leia Mais…

5/20/11

EVA Factory - My first job

Berikut adalah gambaran tempat saya bekerja selama 10 bulan dari bulan Agustus 2010 sampai Juni 2011. Hasil produksi utama perusahaan ini adalah EVA (sejenis bahan foam yang sering digunakan dalam pembuatan insole sepatu). Melalui gambar-gambar di bawah ini, saya akan mencoba memberikan penjelasan mengenai situasi dan lingkungan tempat kerja saya ini.

1. Ruang kerja
Ini adalah ruang kerja saya di bagian Sales & Marketing di perusahaan ini. Di depan saya duduk Mr. Lu Hung Ta, Marketing Manager sekaligus pemegang saham dari perusahaan ini. Awalnya semua pekerjaan saya lakukkan sendiri, karena belum ada asisten yang cocok di bagian ini. Yang terlama hanya bekerja kurang dari seminggu saja. Di atas meja selalu tersedia kamus Mandarin - Indonesia - Mandarin yang sering saya gunakan jika ada istilah harus saya terjemahkan ke dalam bahasa Mandarin atau sebaliknya.

2. Lingkungan luar pabrik
a. tempat penimbunan sampah
Terlihat berantakan bukan?? Inilah sampah hasil produksi yang dibiarkan begitu saja di halaman perusahaan. Alasannya agak rumit namun menarik : perusahaan ini adalah perusahaan asing yang diberikan fasilitas "Kawasan Berikat" oleh Bea Cukai Indonesia. Sebagai Kawasan Berikat, semua keluar masuk barang baik itu mesin, bahan baku produksi sampai sampah hasil produksi harus dalam pengawasan petugas Bea Cukai dan harus membayar Bea Masuk yang ditangguhkan. Pihak perusahaan yang enggan membayar pajak tersebut pun memilih untuk meletakkan sampah-sampah tersebut di halaman perusahaan walaupun tentunya sangat merusak pemandangan. Sampai saya resign dari perusahaan ini (31 Mei 2011), belum ada tanda-tanda bahwa sampah ini akan diangkut. Perusahaan besar dengan investasi jutaan dollar tapi enggan membayar pajak sampah hasil produksi yang hanya sebesar jutaan rupiah. Cukup menarik 'kan?

b. tampak luar gedung utama pabrik









3. Lingkungan dalam pabrik- proses produksi EVA (kiri ke kanan)


















Secara garis besar, proses pembuatan EVA dapat digambarkan melalui gambar di atas. Pertama, semua bahan baku diaduk rata dalam mesin kneader yang fungsinya hampir sama dengan mixer saat kita membuat kue (gambar 1). "Adonan" yang telah diaduk selama kurang lebih 12 menit pun kemudian digiling menjadi lembaran-lembaran tipis yang ukurannya disesuaikan tergantung permintaan pembeli (gambar 2). Langkah selanjutnya adalah "memanggang" lembaran tersebut di dalam mesin press yang memiliki suhu 150-180 derajat Celcius. Suhu ini lah yang akan mempengaruhi kekerasan bahan EVA (gambar 3). Terakhir, lembaran-lembaran tersebut diiris dengan ketebalan berbeda menggunakan mesin splitting (gambar 4).

- Laboratorium
Dalam laboratorium ini terdapat berbagai macam alat yang fungsinya untuk melakukan pengetesan terhadap kualitas EVA yang dihasilkan. Biasanya yang dites adalah ; elastisitas, daya tahan, kekuatan dan berat jenis. Setiap merk mempunyai standard yang berbeda-beda. Merk-merk besar seperti Adidas dan Nike biasanya menerapkan standard yang sangat tinggi untuk bahan-bahan yang dipakai untuk sepatu mereka.


4. Kamar mess
Di kamar ini saya tinggal selama kurang lebih 8 bulan. Kamar ini didesain untuk ditempati oleh 4 orang. Namun biasanya hanya saya dan Pak Sutrisno (mekanik) yang menempati kamar ini setiap harinya. Yang paling saya tidak suka dari kamar ini adalah kasur yang kayu penyangganya selalu copot setiap kali saya berbaring di atasnya.



Walaupun sekarang saya tidak bekerja lagi di perusahaan ini, namun saya tetap mensyukuri pengalaman yang saya dapat selama mengabdi di sana, terutama pengalaman bagaimana cara berhadapan dengan aparat pemerintahan (polisi, dinas tenaga kerja, petugas Bea Cukai, petugas Imigrasi, RT/RW dan sebagainya).

真正的成功是不會害人的...

Leia Mais…

Farewell to Taiwan

Setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Ini adalah fakta yang sangat sulit diterima oleh semua orang walau pada akhirnya tidak ada orang yang bisa menolak kenyataan ini. Yang membedakan hanyalah waktu. Ada orang yang hanya numpang lewat di dalam kehidupan kita, ada juga yang ditakdirkan untuk berada di dekat kita selama bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun.
Sekitar 4 tahun dari hidup saya pernah saya habiskan di sebuah negara kecil bernama Republic of China (Taiwan). Dari Agustus 2006 sampai Juli 2010, saya mendapat kesempatan berharga untuk melanjutkan studi di Wenzao Ursuline College of Languages yang terletak di kota Kaohsiung, kota kedua terbesar di Taiwan. Selama 4 tahun tersebut, banyak sekali orang yang saya temui dan saya kenal. Waktu yang saya lewati bersama mereka tentulah mempunyai kesan yang sangat mendalam. Itu jugalah yang membuat saya sangat sulit untuk mengucapkan au revoir (baca: selamat tinggal) kepada mereka.

Berikut adalah farewell moments yang sempat saya abadikan sebelum meninggalkan Pulau Formosa :

1. Harvest Church Kaohsiung 大地豐收教會










* Gereja ini bisa dibilang adalah keluarga kedua saya selama di Taiwan. Bantuan yang mereka berikan baik itu secara moral dan material benar-benar membantu saya selama studi di Taiwan.
- Foto 1 : sehari sebelum saya meninggalkan Taiwan. Foto diambil setelah kebaktian hari Sabtu malam bersama teman-teman dari bagian profetik. (sumber : koleksi pribadi)
- Foto 2 : bersama keluarga 文斌哥 setelah makan malam di restoran spaghetti. Anak perempuan di tengah bernama 佩佩 /pei pei/, sangat suka digendong sehabis kebaktian. Miss her so muchhh... (sumber : koleksi pribadi)

2. Juniors 學弟妹們










* Bersama adik-adik kelas dari angkatan kedua sampai keempat.
Foto 1 : makan siang bersama adik-adik kelas ditemani dengan KFC fried chicken dan beberapa jenis sayur dan lauk yang diberikan oleh 廖老師 /liao lao shi/, Director of Center of Chinese Language. (sumber : Brenda)
Foto 2 : di Kaohsiung International Airport 小港國際機場, sesaat sebelum meninggalkan Taiwan untuk menuju Singapore. (sumber : koleksi pribadi)

3. Classmates 同班同學













* Bersama teman-teman seperjuangan di UF4A saat farewell party yang diadakan di Howard Hotel, Kaohsiung. Tadinya teman-teman sekelas akan mengadakan acara perpisahan besar-besaran yang akan dihadiri dosen-dosen. Tapi karena kurangnya koordinasi, acara tersebut terpaksa dibatalkan. Gantinya, beberapa teman memutuskan untuk mengadakan sendiri acara perpisahan dalam skala kecil yang terdiri dari makan malam dan acara tukar kado. Sayangnya saya harus kembali ke asrama sebelum pukul 11 malam sehingga tidak bisa mengikuti acara ini sampai selesai.

4. Close friends 好朋友們












* Atas inisiatif Donivan Hsiao 蕭煥諺, beberapa teman juga mengadakan acara perpisahan untuk saya di 50 Plaza (50樓世貿大樓). Pemandangan dari gedung ini pada malam hari sangatlah indah, kita bisa melihat dengan jelas tata kota Kaohsiung yang didesain oleh Jepang pada masa pendudukannya di Taiwan. Restoran tempat kami menikmati makan malam terletak di lantai ke-50 sehingga dapat memberikan pemandangan terbaik kota Kaohsiung pada malam hari.
- Foto 1 : bersama Mina Lai dan Amandine Liu, dua kolega selama bekerja di Department of French's Office. (sumber : koleksi pribadi)
- Foto 2 : inilah dia sang event organizer pada acara ini, Donivan Hsiao. Special thanks to him for organizing this unforgettable moment... (sumber : koleksi pribadi)










* Di Taiwan, orang biasanya mengadakan pesta perpisahan di restoran. Itulah sebabnya semua farewell parties bersama teman-teman dekat saya diadakan sambil makannn...
- Foto 1 : di salah satu restoran yang menyajikan Vietnamese cuisine pada acara perpisahan dengan Oceane Liu, senior di Department of French yang pada waktu itu bekerja di Alliance Francaise Kaohsiung (berita terakhir sekarang dia bekerja di Department of French di Wenzao). (sumber : koleksi pribadi)
- Foto 2 : bersama keluarga Andy Xu 許力中, salah satu anak dengan kebutuhan khusus di Wenzao. (sumber : koleksi pribadi)

5. Teachers and colleagues 老師及同事們



















- Foto 1 : bersama teman-teman kerja di LDCC (Languages Diagnostic and Counseling Center), tempat saya mengajar French conversation selama tahun terakhir di Wenzao. (sumber : koleksi pribadi)
- Foto 2 : di kantor fakultas bahasa Perancis bersama Patrick LIU (dosen bahasa Perancis) dan Christine YONG, Dean of French Department. (sumber : koleksi pribadi)
- Foto 3 : di depan Wenzao Dormitory bersama Liao Nan-yen, Director of Center of Chinese Language. Beliau adalah orang yang cukup berjasa selama studi saya di Taiwan, terutama saat beliau dengan sabar memberikan pelajaran tambahan untuk pelajaran Chinese Modern Prose 現代散文. (sumber : koleksi pribadi)
- Foto 4 : makan malam di restoran tradisional Taiwan di daerah Dashu, Kaohsiung County bersama Prof. Lai 賴昭志 老師 yang adalah host family saya selama 2 tahun terakhir di Wenzao. (sumber : koleksi pribadi)

Leia Mais…

2/2/11

Dunia kerja di PT. C**n L*


Perusahaan ini terletak di daerah Cik***, tepatnya di salah satu kawasan industri terbesar di daerah tersebut.
Saya masuk ke perusahaan ini sejak tanggal 16 Agustus 2010 atau sekitar 2 bulan sejak kelulusan saya.
Dalam tahap persiapan sebelum produksi, masalah yang dihadapi PT. Ch*n L* cukup kompleks dan membuat orang pusing tujuh keliling. Mulai dari urusan container yang
tertahan di Pelabuhan Tanjung Priok karena izin penangguhan pajak mesin yang tidak kunjung dikeluarkan oleh Bea Cukai, sidak-sidak yang bertubi-tubi dari kepolisian (Polres, Mabes Polri), sampai pada keluhan masyarakat terhadap asap boiler yang dimanifestasikan melalui timpukan batu dan makian.

Selain itu, pengalaman yang saya dapatkan selama mengabdi pada perusahaan ini juga bisa dibilang sangat beragam walaupun kebanyakan adalah berurusan dengan orang pemerintahan. Pengalaman seperti bernegosiasi dengan petugas P2 Bea Cukai, menghadapi RT yang marah-marah sampai menggebrak meja, dan diinterogasi oleh Bagian Intelkam Polres mengenai keberadaan orang asing semua sudah pernah saya rasakan selama bekerja di PT. C**n L* ini.

Salah satu fenomena di daerah Tangerang yang mungkin jarang ditemui di daerah lain adalah calo. Keberadaan calo ini sepertinya mustahil untuk dihilangkan. Hati saya sangat miris
jika melihat para karyawan/karyawati yang melamar ke perusahaan tempat saya bekerja harus menyetor uang sebesar Rp. 1.000.000 - Rp. 1.700.000 kepada calo-calo yang biasa mangkal di warung tepat di depan pabrik.
Biasanya calo-calo ini tidak bekerja sendirian. Mereka bekerja sama dengan "orang dalam" yang lazimnya berposisi sebagai HRD atau Kepala Pabrik. Cara kerja mereka bisa dibilang sangat rapi dan sistematik. Calo-calo bertugas untuk mencari "korban" alias pencari kerja. Mereka mengiming-imingi para pencari kerja jaminan untuk masuk ke perusahaan tertentu. Kemudian calo-calo tersebut berkoordinasi dengan HRD atau "orang dalam" di perusahaan tersebut. Tujuannya adalah agar "orang dalam" tersebut bisa meloloskan / menerima calon karyawan/karyawati yang mereka bawa. Berikutnya, setelah calon pencari kerja tersebut resmi diterima bekerja, sang calo pun langsung meminta "uang jasa" kepada calon pencari kerja yang telah dibantu. Biasanya, bila orang tersebut menolak untuk memberikan "uang jasa" kepada si calo itu, HRD yang telah bersekongkol dengan si calo tidak akan memberikan kartu absen kepada karyawan tersebut sampai si karyawan menyetorkan uang yang diminta. Uang tersebut nantinya akan dibagi dua antara si calo dan si "orang dalam".
Sangat menyedihkan memang nasib calon pencari kerja yang mendapat pekerjaan melalui calo. Sebagai gambaran, UMR provinsi Banten pada tahun 2011 adalah Rp. 1.285.000. Jika "uang jasa" yang diminta si calo berkisar antara Rp. 1.000.000 - Rp. 1.700.000 berarti si karyawan harus memberikan gaji selama 1 - 1,5 bulan secara cuma-cuma kepada calo-calo. Sedangkan dengan uang segitu, mereka mungkin masih harus menghidupi anak-anak dan istrinya. Sungguh miris, bukan?

Sebentar lagi, tepatnya pada akhir Mei 2011, saya akan meninggalkan perusahaan ini. Surat pengunduran diri sudah saya buat dan akan saya ajukan secepatnya. Tidak ada masalah yang berarti antara saya dan perusahaan (pimpinan, teman kerja dan lingkungan kerja). Satu hal yang membuat saya mengundurkan diri adalah karena ketertarikkan saya di dunia pariwisata lebih besar, walaupun gaji yang akan saya dapatkan di tempat kerja yang baru (travel agent) bisa dibilang jauh lebih kecil dari gaji yang saya dapatkan sekarang. Pilihan ini cukup sulit untuk saya, namun saya berharap ini adalah keputusan yang terbaik untuk masa depan saya.

Leia Mais…